Filed under: Pulau Dewata
http://www.facebook.com/profile.php?id=1415633739&ref=sgm#/album.php?aid=101403&id=545223885
Filed under: Visit East Kalimantan 2009
Pesta Adat Erau Tempung Tawar

Filed under: Back to Bandung
18-21 July 2009
Sudah 2 bulan tidak melihat ibukota, kesempatan adanya libur di hari senin harus dimanfaatkan.. istilah orang2 adalah untuk kalibrasi fisik dan mental
Tepat di hari Jumat (sehari sblm liburanku), Jakarta kembali diguncang oleh bom. Dan tak tanggung-tanggung, kali ini yg di bom lagi2 adalah korban lama. yup.. JW Marriot dan Ritz Carlton. Yang konon merupakan hotel dengan penjagaan yang sangat ketat. Seperti biasa, para teroris melancarkan aksinya dengan bom bunuh diri. Mau bunuh diri koq ngajak yg lain yah? yah..namanya jg teroris…! Kasihan dengan Indonesia. Negara yang sudah dibangun image dengan baik selama beberapa tahun belakangan ini dan merupakan tujuan wisata yang cukup favorit harus menghadapi tragedi tidak mengenakan ini. Apakah program Visit Indonesia Year 2008-2009 yang sedang digalakan oleh DepBudPar ini akan tersendat? Semoga saja tidak…
Hari Sabtu, aku sampai di Jkt pas tengah hari.. Seharian itu rencananya adalah jalan2 keliling mal dan makan. Selama di Jkt, makanan yg diembat mostly adalah Mie.. dimulai dari makan sore: Bakmi Garing, makan malam : Mie Tarik Lekker, dan besok paginya sarapan: Bakmi Irian. Demi mie tarik, bela2in ke Grand Indo utk nyari.. Emang mie itu enak…
Besok paginya, jam 9 berangkatlah ke Bandung dengan travel langganan. Tujuan ke bdg ini jg utk kuliner… Lagi-lagi tidak kreatif.. selama di Bandung, TAHU memegang rekor makanan yang paling banyak dimakan. Sampai di Bandung, langsung mengunjungi Bazaar kuliner jajanan di Stasiun KA. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir bazaar makanan. Makan siang dimulai dengan tahu gejrot, tempe mendoan, otak2.. Selanjutnya, menuju ke Jl. Veteran utk mencoba Batagor Kingsley. Batagor yang cukup favorit bagi warga Jakarta.. Untuk menetralisir lemak yg terbentuk akibat kuliner, maka walking menuju FO adalah ide yang bagus. FO di Dago yang menjadi tujuan kami.. Hari telah maghrib dan ini adalah waktu makan malam. Rencananya ingin menyicip Steak Javan di Jl. Sulanjana. Steak ini adalah steak favorit pada zaman kuliah. Dasar nasib tidak bersambut, si toko steak ini tutup. Akhirnya Resto Ruby yang menjadi sasaran. Di sini tersedia dimsum “All U Can Eat” beserta Lamien dan Desert. Cukup dengan 55ribu membuat Anda kesusahan jalan untuk pulang.
Hari berikutnya adalah hari liburan terakhir. Dimulai dari makan siang (krn telat bangun, jadi gak sarapan) di Ikan Bakar Pak Chimet.. Maknyusnya ikan bakar.. Selanjutnya menuju ke Yoyo Sport, Be Mall,Dago Tea House dan kemudian makan malam di Ampera.
Selanjutnya adalah ke Bandara untuk mengejar pesawat jam 6.30 subuh. dan akhirnya….
back to bpn…
Filed under: East Java Trip

Long weekend telah tiba, tanggal merah di hari Kamis disusul oleh hari kerja kejepit akan menggoda setiap orang untuk mengambil cuti dan menghilang dari kantor sejak kamis hingga minggu.
Perjalanan saya dimulai dari Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Hiruk pikuk di bandara sudah mulai terlihat pada pukul 09.00 wita tgl 26/03/09 mencerminkan bahwa para manusia di kota itu telah bersiap-siap untuk menikmati liburannya.
Setelah menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya pesawat yang akan saya tumpangi telah siap untuk diberangkatkan. Para penumpang dipersilahkan masuk dengan menunjukkan boarding pass + kartu pengenal (KTP/SIM/Paspor). Durasi penerbangan 1,5 jam dan berhubung waktu di Suroboyo adalah 1 jam lebih lambat dari Bpapan, maka saya tiba di Bandara Juanda 10.30 wib. Suhu di darat dilaporkan 29 derajat Celcius seolah-olah memberi peringatan bahwa jika tidak ada kepentingan di luar, maka cukup stay saja di dalam ruangan ber-AC.

Perjalanan kali ini diikuti oleh 8 orang dengan komposisi: 5 org dari JKT, 1 org dari BPN, dan 2 org adalah tuan rumah di SUB. Rute: Surabaya – Sidoardjo – Malang – Pulau Sempu - G. Bromo – Batu – Surabaya.
Suasana Bandara Juanda juga ramai tanpa terpengaruh hari raya Nyepi yang jatuh pada hari tersebut, tetapi kondisi masih bisa diimbangi dengan luasnya gedung terminal sehingga tidak terasa sumpek. Kalau mau dinilai, bandara ini lebih bagus dari Polonia Medan loh…
Untuk memastikan waktu kedatangan team dari Jkt, saya menghubungi si H, eh ternyata pesawat mereka delay 20 menit dari waktu yang seharusnya jam 11.30 wib. Yang artinya saya harus menunggu +/- 3 jam dari waktu skrg. Malah kartu kredit baru di-downgrade to silver lagi, jadinya gak bisa menumpang di airport lounge. Akhirnya cuma bisa muter2 di ruang tunggu saja sambil menunggu A dan R yang sudah dalam perjalanan menuju airport. Suasana menunggu tidak terasa lama, sebab ada teman, si F yang berbaik hati menemaniku di telepon. hehe… Thx.
A & R datang sekitar pukul 13 dan memutuskan untuk makan di RM Padang sambil menunggu team dari Jkt. Setelah menunggu cukup lama, sekitar 14.10 terdenger informasi bahwa pesawat GA xx dari Jkt telah mendarat.. Akhirnya penantian kami berakhir sekitar pukul 15. Team telah lengkap! Dengan menumpang Innova milik A & R ( oiya, si A & R ini adalah pasangan baru, SELAMAT yahh
kami meluncur untuk makan siang lagi di Mie 55. Teman2 dari jkt belum makan nieh.. kasian. !
Jadwal hari-I ini adalah seputaran kota Suroboyo. Demi menghormati para “pahlawan devisa” yang telah berkontribusi besar dalam pembayaran cukai, maka kami mengunjungi Museum Sampoerna. Sesaat gerbang masuk museum dibuka, sudah tercium bau tembakau yang menyengat. Bagi yang bukan ahlinya pasti akan sulit membedakan mana yang dipakai untuk “Sejarah cita rasa tinggi” ato “How low can you go”. Dalam ruangan terdapat berbagai jenis tembakau, cengkih, sepeda zaman kuno, sado/ delman tanpa kuda, becak, warung2 pinggir jalan yang dilengkapi dengan barang2 kelontong, timbangan sampai dengan kotak korek api dari zaman dahulu. Bangunan ini berlantai 2, dimana lantai atas ini digunakan untuk menjual souvenir. Di lantai atas kita bisa melihat ruang kerja para pemelintir rokok. Sangat disayangkan kami datang pada saat hari libur, dimana para karyawan sedang libur. Keinginan untuk melihat cara memelintir rokok tidak terkabul!
Selanjutnya menuju ke Sanggar Agung yang terletak di Surabaya Timur. Tempat ini berada di dalam kompleks Kenjeran Park yang konon merupakan stadion olahraga yang bagus puluhan tahun yg lalu. Di Sanggar Agung terdapat “Four Faces Buddha” yang gede banget, dan di sampingnya ada dewa Ganesha. Tentu saja, teman2 (termasuk saya) tidak mau ketinggalan untuk berfoto bersama Sang Ganesha yang sudah tidak asing lagi dan juga merupakan sosok yang telah menemani masa2 kami menimba ilmu. Lokasi yang dekat dengan laut ini terdapat arca Dewi Kwan Im yang sangat besar dan letaknya sangat tinggi, seolah-olah sang dewi datang dari khayangan menghampiri Sanggar Agung. Keren! Langit telah gelap, sehingga tidak mendapatkan foto yang bagus untuk lokasi ini.
Jam di tangan telah menunjukkan 19.30, artinya waktu yang tepat untuk makan malam. Sesuai dengan ritual orang yang baru mengunjungi surabaya, maka kami makan bebek goreng di BKT (Bebek Kayu Tangan), Jl. Bratang Gede. Disini menyediakan bebek/ayam dengan harga Rp 12.000/ ptg ato Rp 50.ooo/ekor. Harga yang cukup kompetitif.
Nah, tempat selanjutnya yang wajib dikunjungi di sini adalah adalah gang Dolly. Penasaran dengan sebutannya yang merupakan red district terbesar se-Asia Tenggara, membuat kami tidak sabaran untuk segera membuktikan kebenaran apa yang telah disebut-sebut orang selama ini. Waktu masih terlalu sore untuk melihat aktivitas di sana, jadi kami memutuskan untuk singgah di Sutos (Surabaya Town Square). Ini merupakan salah satu mall dengan konsep semi-outdoor. Kata salah seorang teman, ini mirip-mirip ama Paris Van Java Mall di Bandung. Kami cuma berkeliling sebentar dan kemudian sudah waktunya untuk menuju red district. Cabuttzz..
Satu belokan lagi menuju lokasi target. Kami telah siap dengan kondisi mata yang sigap. Wow… sangat2 menakjubkan..di sepanjang kiri-kanan tertampang etalase2 yang berisi kaum hawa. Tadinya mau foto dari dalam mobil, tapi serem juga kalo para bodyguard di sana berang..Malah jalanan sempit lagi..Akhirnya kami cuma lewatin jalan itu sebanyak 2 kali dan kemudian pulang ke rumah A&R di Ciputraland “The Singapore of Surabaya” untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk pertualang esok harinya.
[Hari ke-2: Lumpur Lapindo-Sidoarjo, P. Sempu]
Hari kedua merupakan perjalanan yang sangat panjang, oleh karena itu jam 5 subuh sudah dimulai antrian mandi. Pukul 6.30 wib kami telah mendapatkan tempat sarapan yang enak. Di G-walk, salah satu bagian dari Ciputraland. Makanan khas medan yang dijual di Surabaya ini yg menjadi pilihan kami: nasi campur dan lontong sayur. Maknyusss dengan harga Rp 12.000/porsi sudah memberikan kepuasan tersendiri bagi perut kami.
Pukul 8 pagi, dengan Innova yang berisi 9 org (including supir) perjalanan pun dimulai dari kota Surabaya. Melalui jalan tol Porong, kami sempat singgah sebentar di bendungan lumpur lapindo atau yg sering disebut sebagai Lusi (lumpur sidoarjo). Di sekeliling jalan terdapat bendungan tinggi yang berfungsi untuk membendung si lumpur. Ternyata bencana ini tidak menghilangkan ide dari penduduk setempat untuk berbisnis. Beberapa spot di sepanjang bendungan, dibangunlah tangga2 dari bambu untuk menuju puncak bendungan. Sekali naik dikenakan tarif Rp 3000/org. Sejauh mata memandang, yang terlihat Cuma lumpur, asap dan atap pabrik yang sudah tertimbun. Kami ditawarkan oleh mas-mas disana untuk menuju pusat semburan dengan ojek yang +/-10 menit dari tempat kami berdiri skrg dengan harga Rp 15.000/ojek. Mengingat rencana perjalanan kami masih panjang untuk hari ini, maka kami memutuskan untuk lgsg berangkat lagi.
Perjalanan terus berlanjut ke arah Selatan dengan melewati kota Lawang. Sepanjang perjalanan kami tidak bermasud untuk makan siang karena dengan PD- bahwa akan menemukan tempat makan di lokasi tujuan. Pukul 12 tepat, kami sampai di Sendang Biru. Sungguh bagus pemandangannya. Sesuai dengan namanya, air di tempat itu bener2 biru..Di seberang posisi tempat saya berdiri ini ada satu pulau yang dinamakan Pulau Sempu. Pulau kecil ini terletak terpisah dengan Pulau Jawa.

Perut mulai minta jatah, mengintai ke kiri dan kanan dengan gaya “monkey king” hehe..lebay… kami tidak menemukan adanya tanda2 restoran disini. Akhirnya ketemu satu warung kecil di pintu masuk, dan ternyaaataaa…. Warung itu jg tidak ada makanan, yg ada cuma indomie. Ya sutralah, akhirnya pesan indomie pake telur.
Selesai makan, kami berencana untuk menyebrang ke P.Sempu. Si empunya kapal menawarkan harga Rp 350rb untuk keliling P. Sempu dengan kapal kecil dalam waktu +/- 2 jam. Tetapi tujuan kami adalah ke Segara Anakan. Segara Anakan ini adalah lagoon kecil yang terletak di tengah2 P. Sempu. Dapat ditempuh dengan kapal dan berjalan kaki memasuki hutan. Akhirnya kami menyewa kapal dengan harga Rp 100rb pp menuju P. Sempu. Perjalanan kapal ditempuh dalam waktu 15 menit. Sampailah kami di pinggiran P. Sempu yang dinamakan Teluk Semut. Dari sinilah perjalanan dimulai (pukul 13.00 wib)
Baru saja berjalan sekitar 50 meter, kami ketemu jalan bercabang. Sebelah kiri terhalang oleh pohon yang tumbang, sedangkan sebelah kanan lumayan clear. Kami memilih jalan yg kanan. Setelah berjalan sekitar 20an menit, jalanan semakin aneh, jalan setapak mulai gak jelas, jalan daritadi menanjak, dan kami merasa bukan menerobos hutan, tetapi malah berjalan-jalan mengelilingi samping pulau. Kami memutuskan untuk kembali ke jalan bercabang dan memilih jalan yang satunya lagi. Pukul 13.45 kami kembali sampai ke jalan bercabang. Nekad melangkahi batang pohon tumbang, ternyata jalan ini lebih manusiawi, walaupun jalanan penuh lumpur tapi setidaknya tanjakan tidak terlalu curam. Perjalanan satu setengah jam, tapi belum ada tanda-tanda akan sampai. Akhirnya kami menyetujui akan balik jika jam 4 jg belum ketemu Segara Arakan mengingat letak geografis di daerah ini yg lebih ke arah timur Indonesia yang artinya matahari akan terbenam lebih cepat dari biasanya.. Ternyata jam 4 tepat kami sudah melihat air di Sagara Anakan yg berwarna biru… wuih..keren dah.. Setelah sampai, sempat foto2 dan istirahat sejenak termasuk mencuci kaki yg sudah dipenuhi lumpur. Lagoon ini bentuknya bagus, dikelilingi oleh tebing, dan salah satu tebing itu ada membentuk lingkaran besar dengan ombak yg selalu menghempas dari arah Laut Selatan. Pokoknya setelah sampai disini, serasa tidak percaya bahwa ada tempat yang sebagus ini di Indonesia. Ada beberapa orang yang menyebutkan bahwa lokasi ini lebih bagus daripada PhiPhi Island di film “The Beach” Leonardo DiCaprio.
Setelah ber-narsis ria sesaat walaupun belum puas, apapun yang terjadi, jam 5 kurang ¼ kami harus balik. Mengingat langit yang semakin gelap, dan kami ke pulau ini tanpa persiapan yang memadai (dengan pakaian wisata, sandal casual, tanpa air minum dan makan siang sekedarnya). Perjalanan dipercepat untuk menghindari gelap. Perjalanan Cuma beberapa menit, langit sudah menunjukkan kondisi gelap. Dan terjadilah accident kecil. Salah satu teman terperosok di jembatan kayu yang menyebabkan kaki luka dan sandal hilang, akhirnya si teman berjalan dengan nyeker (tanpa alas kaki). Langit semakin gelap, dan kami yang tadinya ber-8 berjalan bersama semakin terpencar. Tinggallah saya dan 2 org teman lainnya di paling belakang. Perjalanan terasa sangat lama dan tanpa penerangan memadai, untung saja ingat bahwa HP-saya ini bisa membantu sedikit penerangannya. Dalam kondisi seperti itu, jalanan di depan hanya berbayang-bayang. Kubangan lumpur yang seharusnya bisa dihindari di kala terang, menjadi korban kaki saya. Sandal yang semula dipakai untuk membantu melindungi tapak kaki malah menjadi hambatan krn licin dan sering tertinggal di dalam lumpur. Akhirnya saya ikutan nyeker juga. Di tengah perjalanan, muncul seorang bapak dari belakang dengan obor dan sebuah tangkapan ikan yg besar sekali dan meminta izin untuk lewat. Dengan obor itu, lumayan sedikit terbantu melihat jalan, .. Tapi ternyata si Bapak berlalu dengan cepat dan akhirnya kami ditinggal dalam kegelapan kembali.
Jam 19.15, ternyata kami sudah mendapatkan sinyal HP, langsung saja kami menghubungi teman yg sudah duluan sampai di Teluk Semut untuk menghubungi Bapak Perahu untuk menjemput dari seberang. Ternyata Bapak Perahu sudah di Teluk Semut sejak setengah jam yang lalu karena sedikit khawatir dengan keberadaan kita. Setelah mendapatkan info bahwa kami akan segera sampai, si Bapak Perahu langsung menerobos ke dalam hutan untuk menjemput kami dengan senter yang agak mumpuni.
19.30: akhirnya kami sampai juga di Teluk Semut bersama si Bapak Perahu, kemudian kami dianter balik ke Pulau Sempu dengan kapalnya. Selama perjalanan, si Bapak menyuruh kami tidak boleh menyalahkan sampu apapun, termasuk HP. Kami tidak mengerti apa maksudnya, dan kami hanya menurutinya.
19.45: kami kembali menginjakkan kaki di P. Sempu. Haus yang luar biasa dan secara otomatis langsung menuju rumah penghuni sana yang menjual teh botol. Ntah berapa botol yang diminum oleh kami2.. Setelah itu beristirahat sebentar dan gantian mandi. Setelah mandi, sktr jam 21.00 wib kami berangkat kembali menuju tujuan selanjutnya, yaitu G.Bromo. Di mobil kami mulai bercerita tentang perjalanan, dan mulai merasakan lapernya perut. Yah berhubung ini termasuk desa kecil dan masih hutan environment, maka kami agak susah menemukan warung di pinggir jalan. Akhirnya kami tertidur dan jam 23 sampai di kota Malang, segera saja mencari restoran McD yang kemungkinan besar buka 24 jam. Untung saja ada teman yang pernah bekerja di Malang dan mengetahui lokasi pasti dari si Mc.D. Selanjutnya kami tertidur lagi di mobil dan membiarkan Pak Supir membawa kami ke G.Bromo..
Berlanjut hari ke-3: G. BRomo..
Filed under: Coming SOON
Journey to : Sby-Sidoardjo-Malang-P.Sempu-Batu
http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/photo.php?pid=1564713&id=545223885

Filed under: Journey to the East
LATAR BELAKANG
Propinsi Sulawesi Selatan (disingkat SulSel), memiliki aneka ragam kebudayaan dan keadaan geografisnya sangat bervariasi. Ada dataran rendah dan ada juga gunung yang tinggi, tanah yang gersang dibagian selatan , pantai yang panjang dengan desa-desa nelayan, gua-gua stalaknit dan stalaktit, danau dan air terjun, serta gunung berapi yang tidak aktif. Daerah ini termasuk salah satu wilayah yang penduduknya paling padat di luar pulau Jawa dan Bali.
Tujuh puluh persen penduduk di Sulawesi Selatan hidup dari hasil pertanian dan hasil laut. Padi dihasikan dari l sawah irigasi di dataran rendah, sementara di perbukitan tanaman yang dihasilkan antara lain jagung, ubi kayu, wijen, merica, cengkeh, pala, kopi, kakao, kelapa dan pisang. Tenun sutera, penangkapan ikan dan perdagangan merupakan sumber penghasilan lain bagi penduduk di daerah ini. Yang lain bekerja di bidang industri dan pertambangan, pegawai negeri, usahawan dan turisme.
Di Sulawesi Selatan terdapat empat suku bangsa yang besar, yaitu: Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar, dan sebagian kecil suku bangsa lain. Suku Bugis dan Makassar beragama Islam dan tinggal di sepanjang pantai bagian selatan, terkenal dengan kerajinan tangan dan jiwa pelautnya. Suku Toraja yang beragama Kristen tinggal di bagian utara dan tetap mempertahankan kebudayaannya yang khas. Suku Mandar memiliki kemiripan dengan suku Bugis, tinggal di bagian barat laut yang jarang penduduknya dan desa-desanya relatif otonomi.
LETAK GEOGRAFIS
Sulawesi Selatan dengan ibukota Makassar yang terletak di sebelah Timur Indonesia ini memiliki perbedaan waktu +1 jam dengan waktu Indonesia Barat (WIB). Terdapat pada 1180 – 1220 BT dan 10 – 60 LS. Propinsi Sulawesi Selatan terdiri dari 23 kabupaten, dengan luas wilayah 82.768 km2.
CARA TEMPUH
Perjalanan Jakarta – Makassar dapat ditempuh +/- 2 jam dengan transportasi udara dengan lokasi tujuan adalah Bandara Udara Hassanudin. Saat ini frekuensi penerbangan sudah sangat banyak dan dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan baik BUMN maupun swasta.
Sedangkan dengan transportasi laut memerlukan waktu 3 hari 2 malam dari tujuan Tanjung Priok – Tanjung Perak (Surabaya) – Makassar dengan jadwal keberangkatan 3x seminggu (Hasil survei ke agen biro perjalanan, Mei 2006).
Sebelum menuju ke suatu daerah tujuan wisata, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah daerah yang akan dikunjungi. Disamping bertujuan memberikan gambaran sekilas tentang daerah tujuan wisata, juga supaya kita tidak merasa asing lagi dengan penduduk setempat sehingga suasana keakraban dapat terwujud.
SEJARAH SULAWESI SELATAN
Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Sulsel terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri yang secara umum berada atas empat etnis yakni Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Menurut catatan sejarah Budaya Sulsel, ada tiga kerajaan besar yang pernah berpengaruh luas yakni Kerajaan Luwu, Gowa, dan Bone, disamping sejumlah kerajaan kecil yang beraliansi dengan kerajaan besar, namun tetap bertahan secara otonom.
Banyak sejarah Sulawesi Selatan lahir dari konflik antara suku Bugis, Makassar, dan Toraja. Pengaruh barat mulai dirasakan sejak masuknya bangsa Eropa dalam perdagangan rempah-rempah di Maluku. Pada waktu itu Sulawesi Selatan terdiri dari beberapa kerajaan kecil yang didominasi oleh tiga kerajaan besar yaitu: Luwu, Kerajaan Gowa dari suku Makassar, Kerajaan Bone dari suku Bugis. Dalam perdagangan rempah-rempah ini, timbul persengketaan antara Inggris, Portugis dan Belanda. Portugis bekerjasama dengan Makassar pada abad ke-16, tapi kemudian dikalahkan oleh Belanda (VOC) pada awal tahun 1600-an. Perang terus terjadi antara Raja Makassar dan Belanda, yang secara agresif memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Belanda dibantu oleh Raja Bugis dan bersama-sama mengalahkan Makassar pada tahun 1667. Walaupun semakin banyak daerah di Sulawesi Selatan dikuasai oleh Belanda, namun Bugis dan Makassar tidak begitu saja menyerah. Pemberontakan terus berlangsung selama lebih dari 200 tahun, dan barulah pada akhir tahun 1905, akhirnya Belanda mencapai ‘perdamaian’ yang sifatnya relatif.
LOKASI-LOKASI WISATA
1. MAROS
Setelah sampai di Bandara Udara Hassanudin, berarti Anda sampai di Kabupaten Maros pula. Letak Kabupaten Maros sangat strategis. Di samping merupakan jalur lintas utama ke wilayah Sulsel bagian utara lewat darat, juga berdempetan dengan Kota Makassar. Keberadaan Bandara Udara Hasanuddin di kabupaten ini menambah nilai strategis Maros. Di sini produk unggulan daerah seperti mangga, jeruk, serta kacang mete laris dibeli pelancong.
Perikanan juga menjadi unggulan dengan produksi tahun 2001 sebanyak 27.887 ton. Hasil tangkapan laut 14.043 ton, sisanya dari ikan tambak air payau, kolam, dan sawah. Udang yang dibudidayakan di tambak merupakan produk andalan. Bahkan, sudah diekspor ke Hongkong dan Jepang dengan harga yang menggiurkan. Karena itu, tidak mengherankan kalau banyak petani ikan lebih berminat menggeluti tambak udang. Dari 4.303 keluarga, sebanyak 3.162 keluarga petani ikan menggantungkan hidup dari tambak. (Sumber: Kompas Cyber Media, 15 November 2002)
Selain kekayaan alam, Maros juga kaya akan keindahan alam seperti karst dan daerah konservasi. Misalnya, cagar alam Karaenta (+1000 hektar), cagar alam Balusaraung (+5.700 hektar), cagar alam Bantimurung (+1000 hektar), dan taman wisata Bantimurung (20 hektar) serta kawasan wisata alam Gua Pattunuang (+1.500 hektar).
Berbukit gamping terjal dengan cekungan yang dalam, gua-gua di lerengnya, sementara di bawah tanah mengalir sungai yang memancarkan air bening di beberapa tempat. Topografi seperti itu disebut karst oleh para ahli geografi dan geologi. Bagian Bumi seperti itulah yang mengangkat nama Maros ke percaturan dunia.
2. MAKASSAR
Makassar atau Ujung Pandang yang merupakan ibukota Sulawesi Selatan juga tidak kalah dalam menawarkan berbagai tujuan wisata. Dari Maros lokasi ini bisa ditempuh dengan transportasi darat (misalnya: taksi) +/- 1 jam. Biaya berkisar antara Rp 60.000,- s.d. Rp 70.000,-/taksi. Anda juga dapat mengambil alternatif lain selain taksi dengan menyewa mobil dari Bandara Hassanudin dengan biaya mulai Rp 300.000,- per 6 jam. Untuk geowisata, daerah ini mungkin tidak ada, akan tetapi kota ini menawarkan wisata budaya serta panoramanya yang indah, seperti Benteng Fort Rotterdam dan Laut Losari yang berada tepat di samping kaki pulau Sulawesi ini.
Benteng Fort Rotterdam ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa X yaitu Tunipallangga Ulawang. Di dalam Benteng ini terdapat rumah panggung khas Gowa yang merupakan kediaman dari Raja Gowa beserta keluarganya. Fort Rotterdam, berbentuk seperti kura-kura yang menjalar ke laut, menyimbolkan masyarakat Makassar sebagai masyarakat pelaut. Selama masa periode Belanda, benteng ini merupakan pusat tentara Belanda, pada masa periode pendudukan Jepang, benteng ini dijadikan pusat pendidikan dan kebudayaan, dan sekarang ini, benteng tersebut dijadikan museum dan pagelaran budaya.

3. DANAU MATANO
Dari kota Makassar, menjelang malam sekitar pukul 17.00 wita, Anda dapat langsung mengunjungi Terminal Daya untuk menuju ke Danau Matano yang terletak di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur. Danau ini terletak sektiar 720 km dari kota Makassar. Biaya perjalanan dengan bis berkisar antara Rp 90.000,- s.d. Rp 120.000,- dengan waktu tempuh +/- 10 jam.
Dalam perjalanan menuju Danau Matano, Anda dapat mengunjungi daerah Malino (+/- 60 km). Disana terdapat air terjun “ketemu jodoh” dan kebun teh.




Danau Matano ini merupakan danau terdalam di Asia Tenggara atau ke-8 di dunia dengan kedalaman 600 km. Di sekitar danau ini terdapat perusahaan penambangan nikel milik PT. INCO. Litologi yang terdapat pada daerah ini adalah batuan ultramafic yang mengalami pelapukan. Pelapukan tropis yang dalam bagian ultramafik dari bodi ofiolit dapat menghasilkan bijih nikel yang berharga dalam bentuk lapisan sisa deposit dari nikel laterit bawaan, yang menjadi sumber yang penting bagi nikel. Kerangka pelapukan umumnya berkisar dari ketebalan 5 meter sampai 30 meter. Kerangka saprolitik bagian bawah sangat kaya akan nikel. Saprolitiknya mengandung pusat batuan-batuan besar dari harzburgite yang unserpentinized di kelilingi oleh rim kuning sampai orange dan fracture-fracturenya diisi oleh garnierit dan oksida mangan.
Beberapa meter dari bibir danau ini terdapat palung yang merupakan subduksi dari sesar matano (matano fault). Di danau ini beberapa aktivitas yang dapat dilakukan adalah: snorkling, windsurfing, kayak, dan rafting.
4. TORAJA
Wisata ke Sulawesi Selatan tidak akan lengkap jika tidak mengunjungi Tana Toraja. Dari Danau Matano, dapat menggunakan bis dengan biaya Rp 50.000,-. Perjalanan dapat ditempuh dalam waktu +/- 5 jam.
Tana Toraja adalah sebuah nama daerah dengan status Daerah Tingkat II di kawasan Prop. Sulawesi Selatan, terbentang mulai dari Km.280 s.d. Km.355 dari sebelah utara ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya pada 20 – 30 LS dan 1190 – 1200 BT, dengan luas sekitar 3.205,77 Km2.
Kondisi Topografi daerah Tana Toraja berada di daerah pegunungan, berbukit dan berlembah; terdiri dari 40% pegunungan dengan memiliki ketinggian antara 150 m s.d. 3.083 m diatas permukaan laut (dataran tinggi 20%, dataran rendah 38%, rawa-rawa dan sungai 2%) dengan temperatur suhu rata-rata berkisar antara 15° C – 28° C dengan kelembaban udara antara 82-86%. Curah Hujan : 1500 mm/tahun s.d lebih dari 3500 mm/tahun. (Sumber: www.toraja.go.id)
Keadaan Geologi Kabupaten Tana Toraja lebih banyak dipengaruhi oleh formasi bebatuan dari Gunung Latimojong yang mencakup luas wilayah sekitar 1.565,69 ha atau 48,84% yang terdiri dari jenis bebatuan soprin coklat kemerah-merahan, soprin napalan abu-abu, Batu Gamping dan Batu Pasir kwarsit serta Gradorir Diorir dan lain sebagainya.
SUNGAI
Keberadaan sungai di Tana Toraja sangat potensial untuk dikembangkan bagi kepentingan pariwisata tirta dan alam, selain airnya yang jernih juga memiliki alur Sungai yang sangat menarik dan menantang. Sehingga sungai di Tana Toraja sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai sarana wisata Tirta/alam dan Rafting (Arung Jeram). Sungai yang teridentifikasi potensi wisata adalah Sungai Sa’dan, Sungai Mai’ting, Sungai Saluputti, Sungai Maulu, Sungai Toriu, Sungai Sarambu

FLORA dan FAUNA
Jenis Flora yang ada di kabupaten Tana Toraja adalah Flora Endemik dan Flora hasil budidaya.
Flora Endemik antara lain uru, nato buangin, enau dan berbagai jenis bambu, kopi arabika dan terung toraja. Sedangkan Flora yang dibudidayakan antara lain cemara, padi, ubi kayu, markisa, kentang, tomat, bawang, kubis, cengkeh, kakao, dan lain-lain. Kedua jenis Flora yang ada tersebut sangat berpotensi serta memiliki prospek cerah untuk dikembangkan, misalnya: kopi jenis arabika, bambu dan buah markisa. Adapun faunanya yang dapat ditemui antara lain musang, anoa. kuskus, babi hutan, rusa, kerbau, berbagai jenis burung seperti burung hantu, gagak, ranggong, bangau dan lain lain. (Sumber: www.toraja.go.id)

Bagi pecinta hiking dari Toraja bisa mengunjungi Bawakareang (5019.016’ BT dan 119056.660’ LS) dan Latimojong (3023′ 40.5″ LS dan 12001′38.4″ BT). Salah satu bukit dari Latimojong adalah Rantemario. Dari lokasi tersebut terdapat pemandangan pedesaan di kaki gunung Latimojong yaitu desa Rantalimo.
Di Desa Rantilimo ini perjalanan wisata ke Sulawesi Selatan berakhir dan kembali ke lokasi asal baik melalui udara maupun laut. Lama perjalanan yang diperlukan adalah sekitar 12 hari dengan total biaya +/- Rp 5-8 juta. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk perjalanan wisata. Terima kasih. (Effendy Siawira)

Filed under: About Me
Lahir di Medan 26 tahun yang lalu. Menyelesaikan sekolah formal di SMU SUTOMO 1 Medan. Belajar untuk hidup mandiri menjadi mahasiswa di perguruan tinggi berbasis teknik terkemuka di Bandung. Saat ini sedang bergulat untuk menggapai cita2 melalui kontribusi kerja di suatu perusahaan multinasional di kota minyak, Indonesia. Memiliki hobi untuk mengunjungi daerah-daerah yang menarik dan berbau nature. Baru saja belajar untuk menulis blog. So, harap dimaklumi jika kurang menarik dan silahkan berikan komentar Anda.
Merci…
Filed under: About Me
Welcome to esiawira.WordPress.com !!! Feel free to add some comments.